CEMBURU*

Rasa itu belum mati.
Dia menggantikan posisiku, bagaikan posisinya
Posisinya, bagaikan posisiku
Rasanya, bagaikan rasaku.
Bagaimana rasamu pada rasa yang bukan kasihku?Kau bukan penghianat
Bukan juga penjahat, hanya tak punya martabat.
Kau ingin mengumpulkan semunya
Namun semuanya tak bisa menjadi milikmu.
Bila mungkin bisa banyak wajah mereka
Hanya kau tetap menjadi miskin kasihnyaWahai…kau yang sempat menggoreskan nama pada telapak waktu
Berpalinglah!
Pulanglah
Tolehlah
Singkapkanlah
Telusurilah awal jumpa di rembang itu.Memang kini tangkai-tangkai rumput pada padang itu telah tiada
Bahkan amis-nya-pun telah termakan waktu.
Dan, memori ingat juga hampir pudar!
Entahlah, yang tersisa hanyalah rasa cemburu!Di tebing-tebing perjumpaan
Tersulut rasa cemburu,
Kau membakar kisah awal kita dengan api cemburu
Kau hebat!
Cemburu-mu, menggedor naluri
Cemburu-mu membangkitkan aku dari keterlelapan
Dalam tanya penuh reflektif!
Siapakah aku di pelupuk matamu!Pensavo di odiarti perche mi hai fatto soffrire, Pensavo di poterti guardare negli occhi e dirti che sei un tronzo. Che dite non mi impotava niente ed ora meno che mai. Ero convinto di questo fino a quando avvicinandomi. E guardandoti negli occhi, ho capito che ti amo ancora, disse La ragazza al suo fidanzato #*Mohon maaf tulisan ini terlalu lebay, tetapi saya terinspirasi dengan seorang gadis cilik yang tersangkut rasa cemburu bersama sang kekasih ! dan, apabila ada kesamaan kisah dengan anda, saya harap belajar untuk saling membangunkan akan keterlelapan dari rasa egois!

Iklan

TUHAN, BUKU DAN KOPI*

Masih lembab dalam memori malam itu

Tersulut rasa pada lembah yang hening,

Kampung terasa sepi dan sunyi

Hanya terdengar segerombolan  jangkrik

Yang bernyanyi di balik tumpukan batu

Mengiringi malam yang kian meng-ujung.

Mataku masih menerawang hanya ditemani sebuah Lantera

Mo’at* Nandes, terdengar batuk kecil di kamar ujung Timur.

Guliran arah jarum jam terasa letih

Lentingannya sungguh lambat.

Putaran poros dunia seolah terhenti.

Aku merangsekkan logikaku, untuk mengunting malam yang panjang

Namun, entahlah! Malam tetaplah malam yang harus dilalui

Kumenggedor pintu  sang penenun malam dalam doa

Bibirku, hampir letih, bahkan kaku dan bungkam tanpa kata

Hanya, setitik teguh yang masih menyala

Pada percikan  Lantera yang kian suram.

Ku memeluk malam pada kedipun mata yang sayup-sayup

Kumelambungkan sebait doa

Penuh hening tanpa kata!

O…Tuhan, dekaplah aku!

Dekaplah dan dekaplah!

Aku ini masih buram

Pijakilah dan goresilah aku dengan sabdaMu

Dari Kejadian hingga Wahyu

Biarlah aku menarasi-kan diriMu,di hadapan diri yang lain dalam diriku

Ibarat secangkir kopi, yang habis diteguk.

Hitam warnanya, namun rasanya sedap menyulutkan senyum tiada bertepi!

*Goresan ini dituliskan pada 2013. Pengalaman Asistensi di Stasi Ojang, Paroki Boganatar.

* Mo’at, adalah sebutan manis buat lelaki Maumere a

DAUR ULANG MIMPI

Membongkar mimpi yang tersulam pada purnama kemarin
Menggusur hayalan yang beralusi
Remah-remah kisah yang hampir basi
Di daur ulang dalam narasi

Rentetan kisah dari kisah tersobek
Tatkala Kokokan si jago membelah malam
Kokokannya, walau bernada, tanpa irama
Namun, menggoreskan selaksa peristiwa.
Peristiwa tentang pulangnya fajar.

Aku…masih meratap dan menyetubuhi mimpi
Walau cerahnya mentari menelanjangiku.
Keping-keping harapan, masih berceceran pada ujung hari.
Kumerenggut patahan-patahan kisah
Kusulam dalam narasi, yang berwajah tanpa muka
Menelusuri ambang batas perbedaan
Membongkar derita akan kerinduan tentang kisah kasih Kecil
Yang hampir kalah dalam kemasan perbedaan!

*Kutitipkan kisah usang ini pada Goresan senja

#Camporotondo/ 9/7/2019/

Kisah senja

Di pelipis senja yang hampir tertunduk

Perlahan nur-nya merangkak dalam per-iba-an malam

Sekelompok anak, yang masih bermandikan keringat.

Memecahkan hawa panas yang menusuk.

Ku membuang wajah pada sebuah palazzo

Terlenting suara merdu, nyanyian anak Indonesia

Yang merindu negerinya di ujung senja.

Tak terasa, tetes demi tetes air mataku membanjir kelompaknya.

Kutabuhkan waktu yang kian Menipis

Kutak mampu memutarkannya, pada awal

Aku,

Aku

Hanya mampu membentangkan tangan sembari berseru

Grazie a Te O Signore

Per tutte le grazie che Tu mi datto

Specialmente l’opportunità per incontrare tante persone che mi hanno insegnato per amare senza limiti.

Pianura/08/07/2019

Goresan Senja

Kantukku hampir roboh.

Jari-jemariku masih menari-nari pada tuts2 laptop tua itu.

Kata demi kata, baris demi baris,

menempel pada kata terakhir yg digoreskan,

Bahkan terangkai hingga paragraf.

Goresan ini bukan menorehkan kisah pada sebuah pagi saja,

namun tentang rentetan2 kisah

bahkan yang hampir usang,

tapi kini tersulam dlm narasi penuh utuh

tanpa perampasan intelektual#

* Hx ditemani secangkir kopi#

Wajah Mediterania

Terpampang hamparan pasir
Yang bersentuhan pada bibir buih ombak
Sembari dibarengi mentari senja
Kian perlahan mencumbui horizon yang nun jauh

Hempasan ombak menari-nari riang
Tak terlihat bidukpun yang melintasi
Entahlah, para penjala sedang berziarah
Ataukah mereka sedang ke daratan

Mediterania!
Lautan yang memisahkan benua Eropa dan Africa
Serentak menyatukan benua Eropa dan Africa
Hamparan samudera yang memisahkan namun menyatukan.
Wajahmu menyeramkan bahkan gelombangmu terkadang menelan,
Para pencari suaka perdamaian.

Namamu, terukir dalam prasasti.
Yang dikukuhkan para pemimpin agama.
Namamu disakralkan dan dibaptis sebagai tempat perjumpaan.
Perjumpaan dengan mereka yang latin.
Yang harus meneguk tetesan air laut dari pergeseran social.

Senja ini,
Aku menatap wajahmu, wahai mediterania.
Engkau indah dan menakjubkan!
Bila, mentari senja ini bisa diperpanjang
Maka kuingin duduk dan menatapmu selama seribu Jam
Namun,
Sepoinya angin senja yang menerobosi kupingku
Sembari berbisik……!
Bukan banyaknya waktu untuk mengagumi
Melainkan, jika mengagumi dalam sedetikpun,
Maka, keagungannya lebih dari seribu hari.

By: Coretan Senja#
Napoli, 08/07/2019